Sunday, March 23, 2008

Tetanggaku, Idolaku, Golokmu

Resiko mengganggu bini tetangga memang berat. Kalau ketahuan suaminya, selain malu salah-salah golok yang dijadikan penyelesaian akhir. Contohnya Warsid, 35 tahun, dari Cilacap (Jateng) ini. Kencannya bersama Ny. Cipluk, 28 tahun, tetangganya belum terlaksana, keburu golok mampir di bahu dan kepalanya. Untung saja jiwanya sampai wasalam.

Ini kisah main mata antar tetangga yang jadi malapetaka. Sejak lama Warsid menempatkan dirinya sebagai pengamat bini tetangga, khususnya Ny. Cipluk. Kalau pengamat politik macam J.Kristadi bisa dapat duit dari mana-mana, tapi kalau pengamat bini tetangga, justru korban perasaan ke mana-mana. Bagaimana tidak korban perasaan? Sininya kadung demen banget, sono-nya tiap malam dikeloni pihak-pihak yang berkompeten. Apa tidak ngenes, jadinya?

Nasib begini kini memang sedang dialami lelaki dari Desa Karangsari Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap. Setiap melihat Ny. Cipluk melintas depan rumahnya, dada Warsid suka deg-deg plas. Padahal bisa dijagakke (dipastikan), setiap pagi antara pukul 07.00 bini Kamdi, 40, ini pasti mengantar anaknya ke sekolah TK. Nanti 10 menit kemudian dia sudah balik kembali. Nah…, saat-saat itulah ritual sport jantung Warsid dimulai.

Dada Warsid memang selalu bergemuruh setiap melihat Ny. Cipluk yang cantik nan seksi itu. Pengin sekali dia menegur, mengawali pembicaraan. Tapi bini Kamdi ini sepintas sombongnya selangit. Kalau tidak ditegur ya jalan lurus tanpa tengok kanan kiri. Baru ketika disapa dengan ucapan “dari mana bu” atau “habis ngantar anak bu”, dia menoleh dan meledaklah tawanya yang renyah. Ternyata sebetulnya dia wanita grapyak semanak (ramah) juga. Dengan sikap hangat Cipluk, dada Warsid terasa clesss…!

Untuk bisa lebih akrab dengan tetangga selang beberapa rumah itu, ada-ada saja cara yang dilakukan Warsid. Dari mulutnya yang suka menyanjung-nyanjung kecantikan Cipluk, sampai tangannya mulai iseng menggaruk telapak tangannya ketika ada kesempatan bersalaman. Bahkan sekali waktu dia berani mencemol pantatnya yang masih nampak kentel itu. “Sst, nanti ada yang lihat, lho….,” hanya begitu komentar Cipluk sambil cemberut manis.

Akibat sikapnya yang lunak dan lembut itu, membuat Warsid semakin berani. Sekali waktu dia memberanikan diri datang ke rumah Cipluk di kala suaminya tak di rumah. Kalau sekadar ciuman sekilas, dapatlah dia. Sebetulnya Warsid pengin lebih dari itu, tapi Cipluk bilang “enggak-enggak” dengan alasan suaminya sebentar lagi pulang. Yah, meskipun kecewa dan ngebet, Warsid terpaksa mencoba memaklumi.

Tolakan Cipluk dengan nada kalimat semacam itu menjadikan Warsid semakin berani. Kalimat “suami sebentar lagi pulang” bisa ditafsirkan bahwa tetangga idola itu memang sangat “welcome” atas kehadirannya. Oleh karenanya Warsid semakin berani saja. Sekali waktu Cipluk diajaknya pergi ke hotel, eh ternyata mau. Maka bisa dibayangkan, di sana dia momrot (rusak) bin ancur-ancuran untuk ajang pemuas nafsu.

Itu sebetulnya baru dilakukan sekali saja, tapi rupanya ada tetangga yang memergoki saat Cipluk-Warsid masuk hotel. Temuan itu tentu saja lalu disampaikan pada suaminya. Tapi istri Warsid itu memang pintar menyimpan rahasia. Diakui bahwa memang pernah ketemu satu hotel dengan Warsid, tapi kan punya urusan masing-masing. “Kalau tak percaya, boleh klarifikasi pada Warsid-nya…,” tantang Cipluk.

Kiat berkelit Cipluk hasilnya manjur, karena suaminya lalu percaya. Soalnya Warsid juga merasa ragu lantaran bukan melihatnya langsung. Kalau diklarifikasi ternyata Warsid membantah kan malah jadi malu sendiri. Maka dengan semangat “toh masih utuh ini” dia mencoba tak mempermasalahkan isyu selingkuh di hotel itu. Yang sudah biarkan berlalu, begitu akhirnya dia berprinsip.

Agaknya karena sang suami tak mengusut lebih lanjut, beberapa hari lalu dia mau saja diajak janjian Warsid. Celakanya, sikap menunggu lelaki tetangga itu di ujung jalan, sangat menimbulkan rasa curiga suaminya. Apa lagi di rumah Kamdi juga melihat istrinya tengah berdanan mau pergi. Dikait-kaitkan dengan perilaku Warsid di ujung jalan, langsung saja dia menduga bahwa keduanya sedang janjian.

Habis kesabaran Kamdi. Dia segera mengambil golok, lalu Warsid yang tengah duduk bengon di atas motornya dibacoknya beberapa kali kena punggung dan kepala. Peselingkuh kurang berbakat itu pun tumbang, sedangkan Kamdi lalu buru-buru melarikan diri. Ny. Cipluk hanya bisa menangis melolong-lolong menyaksikan kekejaman suaminya. Sementara Warsid dibawa ke RSU Majenang, polisi tengah mencari-cari keberadaan Kamdi.