Tuesday, March 11, 2008

Petaka Cinta Segitiga

Cintailah sesamamu, begitu kata orang bijak. Tapi Tiwik, 26 tahun, dari Tegal (Jateng) ini menafsirkan lain. Selain mencintai suami, dia kemudian juga mencintai tetangga, dan teman tetangga pula. Akibatnya kacau balaulah. Sebab, cintaannya yang kedua alias selingkuhan, Mardi, 35 tahun, marah besar ketika Tiwik juga menerima sahabatnya sendiri sebagai kekasih. Begitu kalapnya dia, kekasih gelapnya tersebut dibunuh dan mayatnya ditinggal di jalan raya Ajibarang (Purwokerto).

Ini lagi kisah tentang istri yang kendho tapihe (mauan). Tak tahan kesepian karena suami bekerja di Jakarta, dia kemudian menerima cinta lelaki lain yang selalu menggodanya. Dan ternyata Mardi memang bisa mewakili “tugas” suaminya selama ini, dan ternyata sepak terjangnya lebih hebat, lebih akurat. Cuma yang bikin jantung Tiwik suka tercekat, selingkuhannya punya kecemburuan amat sangat dan cenderung nekad.

Umum dan sangat lazim, istri yang ditinggal jauh dari suami suka kesepian. Biasanya kehangatan malam bisa diperoleh kapan saja, kini Tiwik jadi suka ngaplo (bengong) di malam hari sejak suaminya bekerja di Ibukota. Ingin sebetulnya dia menyusul ke Jakarta, tapi kondisi ekonomi Kamdi memang belum memadai. “Sudahlah aku saja yang mengalah, sebulan sekali pulang untuk setor benggol dan bonggol,” kata suami Tiwik selalu.

Meskipun hanya dapat jatah sebulan sekali, itu pun kadang suka meleset. Pas Kamdi kembali ke kampungnya di Desa Selerong, eh kebetulan Tiwik istrinya kena “palang merah”. Yah terpaksa masa “puasa wanita”-nya diperpanjang lagi. Habis mau nunggu beberapa hari lagi, Tiwik selalu bilang biasanya mensnya baru selesai setelah ketemu harinya lagi.

Akibat kendala ini, baik Kamdi maupun Tiwik suka sama-sama pusing. Cuma bedanya, pusingnya si suami tak ada yang menggoda, sedangkan pusingnya Tiwik sering menjadi ganda. Ya pusing tak bisa menyalurkan kebutuhan biologis, ya pusing meladeni godaan sejumlah lelaki. “Mereka pikir istri jauh dari suami selalu gatel, apa....?” Kata Tiwiks aking kesalnya.

Tiga atau empat lelaki yang kini mau memanfaatkan kesepian Tiwik. Tapi dari sekian kontestan selingkuh tersebut, sepertinya yang masuk nominasi hanyalah Mardi. Selain orangnya lebih muda, dia juga sangat romantis. Maka kemudian Tiwik pun memprediksi, sesuai profesinya yang tukang becak, pastilah Mardi akan banjir genjotan baik di jalan raya maupun ranjang.

Ini lalu dibuktikannya. Pas suaminya di Jakarta, dia mau diajak jalan-jalan oleh Mardi pas Tiwik baru belanja ke pasar. Maunya pulang, tapi lalu diajak masuk ke sebuah losmen. Dengan deg-degan dia melayani aspirasi arus bawah Mardi. Wah, ternyata betul. Sepak terjang lelaki ini lebih menjanjikan dari suaminya sendiri. Kekosongan Tiwik yang berminggu-minggu bisa tergantikan oleh kepiawian Mardi berasyik masyuk.

Kesempatan selanjutnya selalu digelar ketika pas suaminya di Jakarta. Meski Mardi juga punya istri, tapi cenderung belakangan dia lebih suka minta pelayanan pada Tiwik. Sampai kemudian beberapa hari lalu. Ketika dia mencari selingkuhannya ke rumah, ternyata tidak ada.Kata adik Tiwik, kakaknya pergi beberapa saat setelah terima SMS dari seseorang.

Amarah Mardi langsung meledak. Bayangkan, sudah acara kelonan gagal, kok didengar info Tiwik pergi lelaki dengan lelaki lain yang ternyata Paijo, teman Mardi sendiri. Rasa cemburunya meledak-ledak. Dia lalu mencari Tiwik dan Paijo untuk memberi pelajaran. Aneh memang, macari istri orang kok pakai cemburu segala. Padahal dia sama sekali tak punya hak untuk itu.

Hari telah malam ketika Tiwik ditemukan. Setelah diinterogasi, istri Kamdi tersebut mengaku malam itu baru saja melayani Paijo. Cemburu dan benci menjadi satu. Dibantu dengan seorang kawannya, Tiwik korban cinta segi tiga itu dihajar hingga tewas. Mayatnya kemudian dibuang di pinggir jalan raya Ajibarang. “Punya selingkuhan mbok iyao satu saja, jangan banyak-banyak,” kata Mardi saat ditangkap polisi Polres Tegal.