Wednesday, March 12, 2008

Cuma Pasokan Onderdil

Cinta Warni, 25 tahun, pada Kasto, 30 tahun, suaminya semula setinggi gunung mahameru. Tapi karena setelah menjadi kepala keluarga dia bisanya hanya memasok onderdil tanpa materil, lama-lama Warni njondil (kaget) juga. Malu terus-terusan ekonomi disubsidi mertua, sedangkan suami tetap tak mau mencari kerja, dia nekad minum shampo sampai klenger.

Ini kisah lelaki yang terbius oleh ungkapan lama: ana dina ana upa (ada hari ada rejeki). Dalam pengertian Kasto yang tinggal di Krandon Tegal Barat, meski kita tak bekerja, rejeki akan dicatu juga oleh Yang Diatas. Padahal logikanya, selagi manusia hanya berpangku tangan, tak mungkin rejeki itu tiba. Qur’an pun mengatakan: Tuhan takkan mengubah nasib satu kaum kecuali kaum itu berusaha mengubah nasibnya!

Nash atau dalil semacam itu kini tak pernah masuk hitungan Kasto. Maka meski istrinya, Warni, selalu mendesak agar dia mencari pekerjaan, tak pernah digubris. Alasannya, jaman sekarang kerja itu susah kalau tanpa koneksi. Sedangkan dirinya yang hanya lulusan SMA, kalau kerja paling-paling jadi buruh pabrik. “Pulang belanja petik melati, bareng suami plesir ke Bangkok. Tanpa kerja takkan mati, soal makan ditraktir bapak simbok....,” begitu kata Kasto berpantun ria.

Tak bisa dipungkiri, rumahtangga Kasto-Warni selama ini memang terus disubsidi pihak orangtuanya. Warni sebagai istrinya tentu saja malu sekali. Kenapa Kasto sudah jadi kepala keluarga masih nyusu pada orangtua? Padahal, akibat selalu dijatah mertuanya, Warni merasa tak punya otoritas rumahtangganya. Segala sesuatunya selalu diatur mertuanya. Segala kebijakan Warni selaku ibu rumahtangga selalu diintervensi oleh ibu dan bapaknya Kasto.

Awalnya rumahtangga Kasto-Warni yang dibangun sejak setahun lalu, berangkat dengan modal cinta. Kasto sangat mencintai Warni, begitu pula sebaliknya. Ketika pacaran dulu, soal kepengangguran kekasih Warni ini sempat dipertanyakan oleh ayah dan ibu Warni. Tapi kala itu Kasto berhasil meyakinkan bahwa setelah kawin nanti dia akan mencari kerja.

Ayah ibu Warni sebetulnya khawatir, janji Kasto tak ubahnya janji SBY-Kalla ketika Pemilu dulu. Tapi karena anaknya kadung cintanya setengah mati, ya sudahlah mereka dikawinkan saja daripada nantinya malah tenggur alias hamil nganggur. Tapi sejak itu doanya tak pernah putus, semoga setelah menikah Kasto-Warni dimurahkan rejekinya.

Tetapi, ternyata janji Kasto pada mertuanya dulu hanya orasi murahan. Setelah jadi suaminya Warni, dia tak segera mencari kerja, tapi kerjanya kelon melulu. Mentang-mentang istrinya ini cantik, putih bersih lagi, tiap hari nggak boleh beranjak dari kamar. Ibarat pabrik yang baru diresmikan, giling terussss. Tiga kali sehari sesendok makan, begitu kata pak dokter.

Isin (malu) sekali jadinya Warni. Punya suami ganteng tapi dalam pengawasan Menaker Erman Suparno. Dia sudah berulangkali membujuk suaminya agar segera mencari kerja, agar kalau sudah punya anak nanti tak merepotkan mertua. Tapi Kasto selalu beralasan, cari kerja itu tak semudah membalikkan tangan. “Kalau tampang model aku kerja di pabrik, ya malu dong!”, begitu malah alasan Kasto.

Kala itu Warni sudah memberi gambaran dan pencerahan bahwa kerja itu tidak terbatas pada kantor dan pabrik. Dagang kecil-kecilan, jadi buruh bangunan di proyek, itu juga mendatangkan uang. Tapi lagi-lagi Kasto menolak, dengan alasan kerja begitu tak ada pletikan (hasil sampingan)-nya. Mendengar alasan suaminya yang selalu mengada-ada, Warni sampai kelepasan ngomong: kalau mau banyak pletikannya ya jadi tukang las!

Akibat suaminya kerja ogah tapi kelon maunya nambah, membuat Warni jadi kesal. Di mana kebanggaan seorang istri? Dia ngiri bila melihat suami-suami lain memberikan amplop gaji pada istrinya, ditambah lagi gaji ke-13. Buat dia, jangankan gaji ketiga belas, justru Kasto yang celaka tiga belas. “Memangnya cinta bisa dinikmati dengan perut kosong?”, begitu Warni pernah nguliahi suaminya.

Hari-hari penderitaan semakin penjang. Tiap hari Warni kedodoran mengatur ekonomi, karena hanya dijatah oleh mertuanya. Tak tahan semua itu, beberapa hari lalu dia betul-betul dilanda putus asa. Daripada hidup makan hati, dia nekad minum sampo dioplos dengan obat luka. Saat itu juga Warni klenger. Beruntung RS. Kardinah berhasil menyelamatkan nyawawanya.