Wednesday, March 26, 2008

Paha Di Malam Tarawih


Rame dan heboh deh di kalangan dalam RSI Tasikmalaya (Jabar). Dua orang karyawannnya jadi jadi urusan sesepuh kampung karena kepergok “indehoi” di rumah kost. Yang bikin warga dongkol, Yana dan Yani ini pacaran tak tahu waktu. Bayangkan, di saat warga pergi ke mesjid salat tarawih cari pahala, mereka malah sibuk urusan paha!

Ini kisah muda-muda yang baru dimabuk asmara. Yana, 25 tahun, yang karyawan RS Islam Tasikmalaya, jatuh cinta pada Yani, 22 tahun, yang juga pegawai rumahsakit yang sama. Hanya di bagian apa, tidak begitu jelas. Yang pasti, jalinan cinta mereka berlangsung sudah lumayan lama. Meskipun hal itu belum sampai ke pihak yang di atas, maksudnya ayah dan ibu mereka masing-masing.

Namanya orang pacaran memang ingin selalu ketemu, dan bermesraan. Tapi Yana-Yani memang kelewatan, sudah ketemu di kantor masih juga suka telpon-telponan lewat HP dan SMS. Sampai-sampai Yani pernah mengingatkan, selama puasa jangan telpon-telponan dulu ya. “Hanya makruh sih, tapi kalau kamu merayu-rayu di siang hari, jadi haram,” kata Yani.

Dasar Yana cowok nekad. Meski siang hari dilarang telepon, malam harinya ajeg ngapeli doinya di Kelurahan Mulyasari Kecamatan Tamansari, Tasikmalaya Kota.Begitu sudah berbuka, makan kolak dan makan nasi, Yana langsung meluncur ke rumah si dia. Kalau sudah begini, Yani jadi tak bisa tarawih. Dia terpaksa menemui tamunya yang ndableg tak tahu diri. Tapi karena namamya pacar, Yani banyak maafnya dan mau memahami.

Urusan anak muda yang dimabuk asmara memang jadi suka melebar ke mana-mana. Bila sebelumnya cipika-cipiki (cium pipi kanan-kiri) sudah nerima, lama-lama pengin nambah. Begitu pula yang terjadi atas Yana-Yani, gaya pacaran mereka jadi lebih berani. Tapi apakah sampai tingkat hubungan suami istri, ini yang belum ada jurnalnya.

Kebiasaan Yana yang suka mengunjungi doinya di kala jam-jam salat tarawih, lama-lama menjadi titik perhatian warga. Pernah ada yang menegurnya, tapi Yana tak ambil peduli. Terus saja dia “apel” di kala orang-orang pergi ke mesjid. Sepertinya dia memang sengaja mencari kelengahan warga.

Orang-orang di Kampung Babakan tempat tinggal Yani, tentu saja jadi gemas. Beberapa hari lalu ketika baru saja turun dari mesjid, ada yang iseng nyatroni rumah Yani. Ini dia, motor Yana ada di luar. Lalu ada yang iseng, mengintip. Masya Allah, keduanya sedang “patuk-patukan” seperti burung di kamar, tapi baju sudah mulai awut-awutan. “Gila, puasa-puasa bukan cari pahala malah sibuk urusan paha,” omel sang pengintip.

Lalu sang pengintip pun mengajak sejumlah teman, dan digerebeklah Yana-Yani itu. Tentu saja mereka terkesiap dan berdalih tidak melakukan apa-apa, kecuali hanya ngobrol-ngobrol saja. Tapi alasan itu tak mereka terima. Kebenaran pengakuan dicek nanti di depan Pak RT. Dengan pakaian belum rapi benar kedua karyawan rumahsakit itu lalu dibawa ke sesepuh kampung yang kebetulan juga jadi Pak RT.

Agak tertolong nasib dua sejoli itu. Karena ketika tertangkap basah hanya sedang “patuk-patukan”, mereka tak dipolisikan, kecuali hanya dinasihati panjang lebar, disaksikan sejumlah saksi mata. Tak tahu jelas, masuk sanubari tidak kuliah moral jadi tontonan orang itu. Yang pasti keduanya menyatakan kapok dan takkan mengulangi lagi perbuatannya.

Kalau Yani-Yani melanggar, sanksinya apa? Kawin hansip sajalah.

No comments: