Friday, March 28, 2008

Iseng Bikin Puyeng


Selingkuh kalau hanya mikir enaknya tanpa memikirkan akibatnya, ya begini ini. Samijan, 40 tahun, jadi urusan Polres Purbalingga (Jateng) karena tega membunuh janda Tarmi, 34 tahun, yang dihamilinya. Tinggalah dia meratapi nasib di tembok dingin, sementara anak istrinya di rumah jadi korban kebengalan Samijan selaku kepala keluarga.

Ini sebetulnya kisah yang terlalu klasik, ketika seorang lelaki jatuh cinta pada janda tetangga sendiri. Apa lagi ketemu modelnya Samijan, warga Desa Limbasari Kecamatan Bobotsari. Dia memang paling gatel tangannya setiap melihat cewek cantik nganggur pula. Maka tak peduli di rumah ada anak istri, dia mencoba menelateninya. “Eh siapa tahu nyangkut,” begitu prinsipnya seperti tanpa beban.

Tarmi randa kempling (janda muda) yang tinggal selang beberapa rumah dari Samijan, memang sudah beberapa tahun lamanya menjalani hidup solo kerier. Entah kenapa dia tak buru-buru membangun hidup baru lagi. Padahal wanita model Tarmi tersebut sangat banyak permintaan. Begitu dilepas di pasaran pasti ludes diserbu konsumen.

Iseng-iseng Samijan mendekati, tanya kenapa membiarkan berlama-lama dalam kesendirian. Apa ora ngeman awak (sayang pada dirinya), atas kelebihan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Tak baik terlalu lama menjanda. Apa lagi kata pemain ludruk Surabaya, dadi randha ngentekna klasa (jadi janda menghabiskan tikar). “Njaluk tak openi pa piye (minta saya yang ngurus, bagaimana),” kata Samijan, namanya juga iseng.

Akan tetapi jawab Tarmi lain lagi. Meski jadi janda, dia tak merasa gatel-gatel amat. Mengingat keberadaannnya kini akibat perceraian, dia harus selektif mencari suami pengganti. Tarmi tak mau lagi ketemu pria yang sekaliber dan karakter suaminya dulu, yang hanya doyan kelon tapi tak mau cari klepon. Dia sudah kapok punya suami yang hanya petentang petentang adol bagus (jual tampang).

Tapi alasan Tarmi yang demikian tak menyurutkan niat Samijan untuk mendekati dan mengisengi. Soalnya lelaki beranak empat ini punya analogi sendiri. Ibarat rokok, bagi yang belum pernah menikmati, seumur hidup tak kena tembako yang tenang-tenang saja. Tapi bagi yang pernah menikmati betapa nikmatnya rokok, lama tak ketemu gudang garam atau jisamsu, pasti ketagihan.

Inilah saatnya mempersembahkan “jisamsu” yang bebas tart dan nekotin, begitu pikir Samijan. Maka setiap peluang ada, dia mencoba merayu-rayu si randa kempling. Dari yang main colek hingga main cemol pantat. Dan karena Tarmi tak pernah protes serius, Samijan pun jadi semakin nekad. Sekali waktu ketika janda STNK itu di rumah sendirian, langsung disergap dan kena “jisamsu” dia punya.

Kejadian itu ternyata terus berlanjut. Tarmi yang semula menyatakan jadi janda tak gatel-gatel amat, lain waktu ketika disosor Samijan pasrah saja. Maka akhirnya ya menjadi sebuah rutinitas. Tanpa klepon, dia sudah mau diajak kelon. Bahkan entah pada hubungan intim yang ke berapa, tahu-tahu perut Tarmi menggelembung mengandung unsur janin.

Adegan mesum kembali terjadi beberapa hari lalu. Namun begitu selesai berbuat Tarmi berkisah tentang kondisi perutnya. Celakanya, Samijan tak mau tanggungjawab dengan alasan berat keluarga. Ketika Tarmi terus merengek, lelaki ini jadi panik. Janda selingkuhan tersebut langsung dibekap pakai celana, sampai kehabisan napas dan tewas. Habis itu mayatnya dibuang ke sumur dengan alasan agar dikira bunuh diri.

Hanya saja Samijan lupa, polisi tak sebodoh itu dikadali. Demi ditemukan mayatnya dalam kondisi mencurigakan, polisi lalu menyisir semua teman dekat Tarmi. Samijan pun diperiksa dan diinterogasi. Berdasarkan bukti-bukti yang ada, lelaki iseng itu tak bisa mengelak lagi sebagai pembunuhnya. “Habis saya tak siap punya dua bini, Pak,” kata Samijan yang sedang puyeng, seakan menyesali keisengannya. (KR)

No comments: