Tuesday, March 18, 2008

Bapak Anak Sama Rusak

Anak rusak bapak bejad, itulah kelakuan Tohir-Rabini dari Kebumen (Jateng). Ada gadis manis ngglibet dekat rumah, sama-sama tertarik. Dengan ancaman dan rayuan, bapak dan anak itu saling menggilir Trinil, 18 tahun, dalam waktu berbeda. Semuanya berlangsung diam-diam, artinya bapak tidak tahu kelakuan anak, sebaliknya anak juga tak mengerti bejadnya sang bapak.

Trinil yang tinggal di Desa Jogomertan Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen, terlahir dari keluarga miskin. Sebuah sumur yang menjadi kebutuhan primer setiap keluarga, orangtuanya tak memiliki. Untuk keperluan cuci mencuci, dia terpaksa numpang di rumah keluarga Tohir tetangganya. Buat ukuran kegotongroyongan warga desa, hal-hal seperti itu memang jamak. Tetangga lain rumah biasalah bludhas-bludhus (masuk tanpa izin) masuk ke sumur orang.

Itu pula yang dilakukan Trinil. Sekali waktu dia masuk ke sumur tetangga yang lain. Bukan untuk numpang mencuci, tapi nyolong sabun. Nah, baru saja tindak pencurian itu terlaksana, rupanya dipergoki oleh Rabini, 20 tahun, anak lelaki keluarga Tohir. Dasar mental preman, pemuda itui malah berusaha memerasnya. “Men, tak kandhakke wong-wong ben, nek kowe nyolong sabun (biar kuceritakan ke mana-mana bahwa kamu nyolong sabun),” ancam Rabini.

Keruan saja Trinil malu dan takut. Melihat korbannya panik, Rabini lalu menawarkan sebuah solusi, yang menurut kantor pegadaian disebut sebagai: mengatasi masalah tanpa masalah. Apa solusi Rabini? Katanya, kasus ini takkan disebarkan ke mana-mana asalkan Trinil mau melayani hubungan intim sebagaimana layaknya suami istri. Enak dan gampang, kan?

Akibat takut dipermalukan Rabini di depan khalayak, terpaksa Trinil melayani ajakan mesum Rabini. Bagi anak Tohir yang baru sekali-kalinya mencoba, dia tak pernah curiga bahwa “kehadirannya” bukan merupakan orang pertama. Rabini memang sama sekali tak ngeh bahwa ibarat jalan lingkungan, perjalanannya mulus-mulus saja tanpa hambatan polisi tidur sebagai gajlugannya.

Hari lain, kembali Rabini menggeber Trinil karena terlanjur ketagihan. Setiap gadis itu mau menolak, selalu sicowok melempar ancaman klasiknya. Padahal dalam hatinya gadis yang sudah tidak lagi gadis itu mengeluh, kenapa anak sama bapak kelakuannya sama saja? Kenapa sama bejad dan sama rusaknya? “Tohir itu kelihatannya santun, tapi soal freesex sangatlah tekun,” kata batin Trinil.

Ih….., kenapa Trinil ngomong begitu? Ada apa sesungguhnya dengan Tohir, petani jujur tanpa dasi itu? Ssst, asal tahu saja. Jauh sebelum Rabini jadi penggumul Trinil, Tohir sebetulnya termasuk pemain lama, karena sudah sering mempedayai anak gadis tetangga itu dengan sejumlah uang. Dus karena itu Tohir yang selama ini nampak kalem dalam lingkungannya, sesungguhnya bagian dari Sastro Pandelepan (tukang main perempuan) juga.

Di kala istri berhalangan atau Tohir pas punya duit, dia sering mengajak kencan Trinil dengan bayaran Rp 8 ribu sekali tayang. Memang sangat murah sekali. Tapi bagi Trinil yang belum tahu duit, baginya uang segitu sudah lumayan besar. Apa lagi buat ukuran di kampung, duit Rp 1.000,- masih lumayan buat jajan kue bolumprit dan roti amandel.

Oleh karena itu, kini Trinil tak lagi mengeluh buat jambalan (santapan) ayah dan anak. Dan ironisnya pula, meskipun sudah lumayan lama berlangsung, Tohir maupun Rabini tak pernah menyadari bahwa telah menggunakan kendaraan yang sama. Mulut Trinil memang bisa dipegang, dia sama sekali tak mau cerita soal beginian, karena dia memang setia pada perintah sponsor bahwa jangan sampai cerita ke mana-mana.

Lama-lama rahasia itu terkuak juga oleh paman Trinil. Sekali waktu celana kancut Rabini ketinggalan, dan sang papan pun mendonder. Dalam keadaan terdesak Trinil menyebut nama Tohir dan Rabini . Tentu saja si paman terkaget-kaget, sehingga dia melaporkan kebinalan ayah-anak itu ke Polsek Petahanan. Hari berikutnya, secara bergantian Tohir dan anaknya dicokok petugas. “Lho, kok kowe le (lo kok kamu, nak),” pekik Tohir di Polsek.

Aduh-aduh, mau ditaruh mana muka istri Tohir kalau begini?