Wednesday, March 12, 2008

Alu Di Ujung Selingkuh

Sebagai peselingkuh handal, agaknya Suroto, 54 tahun, tak mengenal takut. Biar kepergok suaminya, biar dilaporkan ke polisi, dia tenang-tenang saja dan terus ngeloni Ny. Miranti, 30 tahun, di kala Bardan, 35 tahun, jadi kernet angkot. Tapi akhirnya perselingkuhan antar tetangga itu berakhir juga, ketika alu telah menghantam tengkuk Suroto hingga wasalam. Sungguh suatu kematian suulkhotimah, kata Aa Gym.

Ini kisah kelabu dari kota getuk Magelang. Bagi Suroto yang tinggal di kampung Magersari Kecamatan Magelang Selatan, tubuh Ny. Miranti bini tetangganya itu memang seempuk dan sewangi gethuk Trio. Cuma bedanya, gethuk pakai panili, sedangkan bini Bardan ini banyak pitamin. Menurut teori ilmu gizi, wanita model Miranti memang termasuk makanan empat sehat lima sempurna!

Tampilan bini Bardan ini memang sungguh nyolong pethek (di luar dugaan). Meski suaminya hanya kernet angkutan kota, tapi dia hadir sebagai sosok wanita yang anggun dan memukau. Bodinya seksi, kulit putih bersih, betis mbunting padi. Rambut kadang dibiarkan tergerai, kadang pakai kerudung. Pokoknya apapun yang dikenakan Miranti selalu terlihat gandes luwes. Sepertinya ketika lahir dulu kalung usus.

Iman Suroto yang jadi tetangga Miranti langsung goyah setiap menyaksikan penampilan bini sopir angkot tetangganya itu. Kalau pas ketemu sepi tak ada orang, terutama tak terlihat oleh istrinya, dia menyanjung-nyanjung Miranti seperti artis Christi Jusung, atau Desy Ratnasari. “Wong kok ayune dipek dhewe ta Bu (orang kok cantiknya dimonopoli sendiri),” kata Suroto setengah berbisik, tapi sambil senyum.

Agak kaget juga Miranti dapat rayuan Suroto. Bagaimana tidak, sudah tua begitu masih bisa juga ngegombal. Tapi serius atau sekadar gombale mukiyo, dalam hati senang juga dia dapat sanjungan seperti itu. Dia kadang ngiri juga pada suaminya. Kenapa, lelaki lain pada menyanjung dirinya, sedangkan suaminya sama sekali tidak. Bardan memang tak pernah bersikap romantis. Kalau butuh ya waton nyreguduk (asal tubruk) langsung pada sumbernya.

Tetangga satu ini memang sungguh bikin Suroto pusing tujuh keliling. Sikap Miranti boleh dikata jinak-jinak merpati. Ibarat burung dara, dia sudah merunduk-runduk layaknya siap dipajangi (dikawini), tapi begitu Suroto mau nubruk dia terbang mak kleper ke bubungan rumah. Tinggalah Suroto mbekur-mbekur wok-wokkk ketekurrrr, wok-wokkk ketekur memendam rasa sejuta kecewa.

Ironisnya, kecantikan istri tak didukung oleh materi yang kuat. Maka boleh dikata benteng ketahanan rumahtangga Bardan menjadi demikian rapuh. Ekonomi Bardan sehari-hari memang serba kekurangan, sehingga sekali waktu Miranti dengan sangat terpaksa pinjam uang pada Bardan tetangganya yang lumayan genit itu. Dijanjikan kembali minggu depan, setelah suami dapat duit. “Gak usah dipulangkan nggak apa, asalkan….,” begitu kata Suroto sambil senyum-senyum penuh arti.

Ketika jatuh tempo pinjaman uang itu tiba, Miranti berusaha membayar dengan mendatangi rumah Suroto. Kebetulan rumah lelaki itu sepi, sehingga Suroto tak menerima uang itu, tapi langsung menggelandang bini Bardan ke ranjang. Miranti mau teriak, malu. Maka yang terjadi kemudian, bini kernet angkot itu betul-betul dicemplak Bardi dengan penuh nafsu.

Agaknya Miranti sangat berkesan dengan permainan tetangganya tersebut. Buktinya ketika lain hari Suroto datang ke rumah hendak mengulang sukses, bini Bardan tak keberatan. Jadilah mereka berpacu dalam birahi. Tapi ketika mereka sudah selingkuh sekian lama, tercium juga oleh Bardan. Serta merta Suroto dilaporkan ke Polres Magelang, dengan tuduhan telah menyetubuhi istri orang secara berkesinambungan.

Hebat benar nyali Suroto. Meski sudah dilaporkan polisi, dia tak juga gentar. Masih juga mendatangi bini Bardan itu di kala suami tak di rumah. Tentu saja kernet angkot itu jadi marah besar. Saat Suroto berkunjung ke rumahnya dan berhaha-hihi dengan bininya, langsung dilempar kursi rotan. Tetangga genit itu hendak kabur, tapi Bardan menyusulnya dengan hantaman alu tepat di tengkuknya. Kontan Suroto wasalam di tempat, sedangkan Bardan diserahkan ke polisi.

No comments: