Sunday, March 23, 2008

Selingkuhnya Pak Guru

Citra guru bisa ternoda gara-gara ulah Hamdi dan Rohyati dari Subang (Jabar) ini. Bila di DPR pernah ada koalisi kebangsaan dan koalisi kerakyatan; di rumah dinas mereka justru membangun koalisi perselingkuhan. Dikira para tetangga pak dan bu guru ini menyelesaikan pekerjaan sekolah, tak tahunya malah tengah menyelesaikan peke”rjaan” penuh gairah yang mestinya hanya milik suami istri!

Ibu guru Rohyati, 38, di sekolah memang terkenal sebagai pendidik yang punya banyak kelebihan. Selain menguasai banyak bidang mata pelajaran, metode dan cara mengajar dia disenangi murid. Mata pelajaran yang susah, di tangannya menjadi mudah dicerna oleh anak didik. Pendek kata, Bu Guru Rohyati dicintai murid-murid-nya. “cakap cara mengajarnya, cakep pula orangnya,” begitu sanjung para wali murid.

Untuk soal kecantikan Bu Guru Rohyati, semua orang juga mengakui. Tapi sepanjang yang diketahui, mereka ini sekadar mengagumi, tanpa maksud apa-apa. Apalagi berusaha memilikinya, jauhlah itu. Soalnya siapapun tahu, di rumah dinas gurunya di Desa Karanganyar Kecamatan Ciasem, Bu Guru telah memiliki suami dan sejumlah anak. Dengan demikian, berani mengganggu dia sama saja mencari penyakit!

Mestinya memang begitu jalan pikiran manusia waras. Tapi beda dengan Hamdi, 56, Kepala SD Karanganyar yang sekaligus jadi atasan Bu Rohyati. Setiap melihat lenggang lenggok anak buahnya tersebut, otaknya langsung ke ranjang melulu. Dia berkhayal bagaimana bisa ngeloni bu guru yang mulus, putih bersih dengan betisnya yang mbunting padi itu. “punya bini begini di rumah saya sarungan terus”, ujarnya ngeres.

Di kalangan keluarga dan rekannya, Kepala SD satu ini memang dikenal sebagai lelaki mata keranjang. Dia paling tak tahan melihat jidat licin. Sudah berulang kali Hamdi terlibat skandal dengan wanita lain, sehingga istri di rumah sampai kurus kering memikirkan ulah suaminya. Bu Hamdi ini betul-betul heran, di rumah sudah diberi jatah dengan pelayanan sistem 24 jam, kok masih juga geratakan ke mana-mana!

Orang boleh menasihati sang Kepala SD itu, tapi kenyataannya Hamdi tak pernah jera dengan sifat buruknya. Ketika Bu Guru Rohyati yang cantik dan putih tersebut kini jadi anak buahnya, dia mulai menggelar siasat untuk menggaetnya. Setiap jam istirahat di kantor guru, Hamdi suka merayu lengkap dengan kata sanjung-annya. “yang dikagumi kok betis, memangnya tak ada yang lain” balas Rohyati kala itu.

Nah, sedikit kata-kata Rohyati, tapi maknanya sangat luas. Secara eksplisit bu guru ini juga memberi angin pada aspirasi arus bawah Hamdi atasannya. Oleh kare-nanya oknum Kepsek itu jadi semakin berani. Di kantor guru yang sedang sepi, dia berani main colek pada Bu Rohyati, khususnya pada bagian-bagian musykil nan nyem-pil. Dan ternyata si putih bersih itu tak juga melawan!
Guru kencing berdiri murid kencing berlari, begitu kata pepatah. Lha kalau gurunya mau “kencing enak” bersama bu guru? Ya masuk ke rumah dinas dong, be-gitu jawab setan. Ternyata bisikan iblis itu dituruti benar oleh Hamdi. Maka selepas me-ngajar, Pak Kepsek tersebut segera ngekor Bu Rohyati pulang ke rumah. “aku kangen ma, sehari tak melihatmu aku pusing jadinya,” kata Hamdi sambil sibuk mengirim serangan.

Mesum kalangan pendidik itu pun terjadi, pokoknya saru dan seru! Tapi belum juga mereka selesai menuntaskan gairah siangnya, ada warga yang mengintip. Melihat Kepala SD main kuda lumping dengan anak buahnya di rumah dinas, penduduk jadi emosi. Mereka diserat keluar dan nyaris digebuki. Untung saja ada warga yang iba, sehingga keduanya cukup diserahkan ke Polsek Ciasem.

Akan halnya istri Pak Kepala SD tersebut, hanya bisa nangis pilu ketika mendengar kabar itu. Sudah berulangkali kena batunya, kenapa kok tak juga kapok. Capek deng-an ulah Hamdi, dia berencana minta cerai saja. “mendingan hidup menjanda dari-pada makan hati melulu”, kata Bu Hamdi sendu.

Hidup tanpa suami bisa kedinginan lho Bu!