Sunday, March 23, 2008

Habis Manis Hamil Dicekik

Ketulusan Jumali,35 tahun. dalam merawat Pujo,65 tahun, perlu dipertanyakan. Sebab, niat utamanya adalah untuk mendekati iyem ,38 tahun, anak Pujo yang kebetulan berstatus janda. Biar udah es-te-we, dimata Jumali, Iyem sangat istimewa. Rupanya, sudah lama dia naksir janda itu. Sayangnya, niat Jumali untuk mencurahkan perasaan, terganjal dengan statusnya yang sudah punya isteri dan buntut alias anak. Jadi, Jumali hanya bisa memendam perasaan dan menelan air liurnya setiap kali Iyem melintas seraya memberikan senyum manis.

“Ck..ck..ck.. Oh, mbak Iyem, kamu begitu manis, dan pinggulmu itu lho, bikin hatiku mpot-mpotan. Di mataku, kamu nggak kalah dibanding gadis-gadis, bahkan lebih mateng dan pasti lebih dewasa kalau sedang…, ah..” pikiran Jumali melayang-layang tak karuan. Apalagi terkadang, saat melintasi rumah Iyem, dia melihat wanita itu duduk sambil menyilangkah kakinya, sehingga terlihat betis Iyem yang masih mulus. Semakin nggak karu-karuanlah pikiran Jumali.

Ditengah Jumali berpikir keras, bagaimana caranya bisa mendekati mbak yu Iyem itu, tiba-tiba terdengar kabar, kalau mbah Pujo, ayah Iyem, menderita sakit stroke.

“Nah, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ini bisa dijadikan cara untuk mendekati mbak Iyem,” kata Jumali, Warga Dukuh Tegalan, Jetis Delanggu Klaten ini kegirangan. Maka, dengan berpura-pura menjenguk mbah Pujo yang sedang sakit itu, ditambah desakan dari iblis, Jumali pun mendatangi rumah Iyem di Dukuh Mojosari Banaran Delanggu “Nah, gitu dong, bleh. Jadi laki-laki harus berani, apalagi dalam urusan birahi, jangan ditunda-tunda, nanti didului orang!” bisik si iblis.

Melihat kedatangan Jumali, Iyem pun bersiap-siap menyambutnya. “Mau ngeliat bapak…” kata Juma pura-pura nggak peduli pada sambutan Iyem. Padahal dalam hati, dia udah kepincut banget ngobrol berdua dengan Iyem. “Ntar dulu, pelan-pelan, jangan main grasa-grusu, ntar ketahuan,” batin Jumali.

Begitulah, kedatangan pertama, kedua, ketiga, Juma menunjukkan sikap ingin merawat mbah Pujo. Seakan-akan dia ingin menunjukkan sikap tetangga yang baik dan patut diteladani. Taaapi, setelah kunjungan ketiganya, Jumali mulai larak-lirik, mesem-mesem setiap kali melihat Iyem. Suatu ketika, Jumali memberanikan diri meremas tangan Iyem dengan gemasnya. “Kog remesnya, kuat amat, mas?” tanya Iyem malu-malu.

“Habis, tangan mbak alus banget,” sahut Juma, juga agak malu-malu. Tingkah mereka persis pada saat jatuh cinta sewaktu remaja dulu.

Sebagai wanita yang sudah matang, ditambah sudah menjanda sekian tahun, Iyem dapat dengan cepat menangkap aspirasi urusan bawah Jumali. “Terus terang aja, mas…” Iyem seakan malah menantang. Jumali tertegun. Dia nggak menduga, cita-citanya bakalan bisa terwujud dalam waktu singkat.

Malam itu, Jumali nggak jadi merawat mbah Pujo. Dia justru ‘merawat’ Iyem di kamar sebelah. Juma betul-betul mendapat pasien istimewa. Iyem pun menyambutnya dengan gegap-gempita, setelah sekian lama tidak merasakan kehangatan. Keduanya larut dalam simfoni yang indah.

Berkali-kali perbuatan terlarang itu mereka lakukan, hingga suatu ketika, Iyem mengaku telah hamil sekitar enam bulan. “Ha? Masa hamil, sih?!” Jumali terkejut, seakan baru sadar akan perbuatannya. Ketika Iyem minta pertanggung jawabannya, Jumali bilang, ntar dulu. Karena setiap ditagih jawaban Juma hanya ntar dulu-ntar dulu, Iyem pun nekad memberitahu pada isteri Juma, bahwa dia telah dihamili pria itu. “Saya minta ijin mbak, saya rela kog, dijadikan isteri kedua,” kata Iyem.

Tatkala perihal itu didengar oleh Jumali, dia naik pitam. Rupanya, dia nggak rela Iyem menganggu keluarganya. Jumali berpikir keras, bagaimana caranya untuk mengamankan keluarganya. “Udah, libas aja bleh, habisin!” iblis yang dulu mensponsorinya untuk mendekati Iyem, datang lagi.

Usulan sang iblis masuk ke akal Jumali. Dia pun mengatur siasat, mengajak Iyem jalan-jalan, naik motor di daerah Delanggu. Tanpa pikir panjang, Jumali langsung mencekik leher Iyem, sampai wanita itu klojotan, hingga akhirnya meregang nyawa. “Nah, itu baru perkasa namanya bleh. Perkasa berzinah, perkasa ngebunuh wanita, ha..ha…” kata iblis tertawa.

Akibat perbuatannya itu, Jumali pun meringkuk di Polres Klaten. Itulah akibatnya jika mau enak, tapi nggak mau bertanggung jawab. Pakai jalan pintas lagi.

No comments: