Tuesday, July 29, 2008

Kisah Seru dan Saru


Punya sawah tak panen padi, itulah ibaratnya si Dulmajid, 40, dari Surabaya ini. Pekerjaan sehari-harinya berjualan jamu sehat lelaki, tapi dia sendiri sebagai lelaki tak “sehat” di ranjang. Akibatnya Wiwin, 34, istrinya nekad selingkuh dengan pakar seksologi dari lokasisasi Doly. Wah, betul-betul seru dan saru!

Ini memang kisah yang sangat ironis, tragis sekaligus nylekuthis (tak tahu malu) dalam urusan perangkat pipis. Bagaimana tidak? Pekerjaan Dulmajid sehari-harinya adalah penjual jamu Jawa, yang dijajakannya di toko depan rumahnya. Selain jenis jamu-jamu untuk pegel linu, menstruasi tidak lancar, banyak pula Dulmajid menjual jamu yang berguna untuk menambah stamina dalam urusan seks. Makanya di tokonya ada juga jamu Kuku Bima (kurang kuat bini marah) dan Padibu (papa di atas ibu). Sebagai lazimnya jualan jamu, bisa pula minum di sini.

Pernahkah melihat, pedagang produk kecantikan, tapi dia sendiri sama sekali tidak cantik; atau penjual obat kumis tapi dia sendiri tidak berkumis? Itu pula nasib yang dialami Dulmajid dari Duku Pakis, Surabaya. Sementara dia setiap hari mempromosikan produk jamu sehat lelaki, dalam prakteknya Dulmajid sendiri tak pernah “sehat” dalam urusan ranjang. Wiwin sebagai istrinya, dalam usia produktif dan masih sangat enerjik, tentu saja menjadi sangat kecewa. “Jare duwe sawah jembar-jembar, tapi kok gak tahu panen, yok apa se (katanya punya sawah luas, tapi kenapa kok tak pernah panen),” keluh wanita itu berkepanjangan.

Sebagai wanita yang tak kuat iman, gampang saja dia mencari solusi. Ibarat stasiun TV, jika yang TVRI gambarnya bersemut, tinggal saja pindah ke chanel TV swasta yang lain. Di kala dia kesepian tak pernah mendapatkan kepuasan cintanya pada Dulmajid, diam-diam Wiwin melabuhkan cintanya pada Bardowi, 37, seorang kasir di lokalisasi pelacuran Doly, Surabaya. Sesuai dengan habitatnya, lelaki satu ini memang termasuk “dewan pakar” dalam urusan ranjang. Pendek kata, bersama Bardowi, semuanya bisa!

Begitulah kemudian yang terjadi. Memanfaatkan kelengahan suami, Wiwin selalu berselingkuh dengan Bardowi yang gairahnya memang dowi (panjang sekali) nyaris tak ada habisnya. Bila situasi di rumah tidak aman secara mantap terkendali, mereka berbagi cinta dalam sebuah hotel. Tapi jika situasi rumah sangat demikian kondusif, maksudnya Dulmajid tak di rumah, tanpa sungkan-sungkan Wiwit mengajak Bardowi bergelut di ranjang pribadinya. Bukankah Dulmajid suaminya telah menulis besar-besar di toko jamunya: dapat minum di sini!

Beberapa hari lalu Wiwin dapat info suaminya mau pergi ke Gresik untuk mengantar seorang familinya. Nah, ini kesempatan emas bagi Bardowi untuk “minum di sini” dalam ranjang pribadinya. Maka ketika situasinya betul-betul tata tentrem kerta raharja (aman, tenang dan makmur) sebagaimana kata dalang Ki Anom Suroto, keduanya pun berbagi cinta secara seru dan saru (aib). Ibarat permainan tinju, begitu serunya pertandingan tersebut, sampai diperlukan partai tambahan segala.

Cuma apes kali ini. Di kala Wiwin – Bardowi tengah bertanding antara hidup dan mati, tahu-tahu Dulmajid pulang dan memergoki ketika keduanya tengah telanjang dan tumpang tindih. Suami cap apapun takkan rela istrinya disetubuhi lelaki lain. Itu pula sikap yang diambil Dulmajid. Dia segera mengambil clurit dan disabetkan ke tubuh Bardowi berulangkali hingga tewas di tempat. Wiwin yang hendak kabur, kena juga sabetan ala kadarnya hingga perlu perawatan di RSUD Dr. Sutomo.

Dengan clurit di tangan Dulmajid menyerahkan diri ke Polres Surabaya dengan diantar oleh seorang famili sekaligus pengacaranya. Dalam pemeriksaan polisi Dulmajid mengaku tidak rela istrinya yang cantik itu diselingkuhi lelaki lain. Tapi kini meski harus masuk penjara sebagai resikonya, penjual jamu itu merasa puas lantaran telah mampu membela harga diri sebagai lelaki sejati. “Sedumuk batuk senyari bumi (urusan istri dan tanah dibela sampai mati) Pak…,” kata Dulmajid ketika membela martabatnya.

Memang iya, tapi kasihan Bardowi jadi martabak!