Monday, July 28, 2008

Istrinya Ditubruk Pak Kades


Ditinggal suami kerja di Kalimantan, istri malah kelonan dengan Pak Kades. Itulah kelakuan Ny. Marsih, 44, warga Sragen (Jateng). Gara-gara ulahnya tersebut, rumahnya terpaksa digerebek warga. Yang menarik, pemimpin penggerebekan adalah suaminya sendiri yang baru tiba dari Balikpapan.

Umur Marsih yang baru kepala empat, memang masih termasuk kategori STNK (Setengah Tuwa Ning Kepenak). Didukung wajah dan bodinya yang tetap aduhai, jakun lelaki pastilah turun naik melihat penampilan istri Karjono dari Desa Ngepringan Kecamatan Jenar Kabupaten Sragen ini. Setelah itu, otak pun menjadi ngeres, memikirkan yang enggak-enggak. “Mungguha Marsih dadi bojoku, ming takkon mamah karo mlumah (andaikan dia istriku, hanya aku suruh makan dan melayani di ranjang),” kata banyak lelaki di Sragen.

Namun sangat disayangkan, kecantikan Marsih tak diimbangi oleh ekonomi yang mapan dari suaminya. Untuk nafkah sehari-hari, sepertinya bumi Sragen tak memberi ruang bagi kehidupan keluarga ini. Terpaksa Karjono suaminya harus merantau cari kerja di Kalimantan Timur. Resikonya, keluarga ini paling bisa ketemu 3 bulan sekali, dalam rangka setor benggol (uang) dan bonggol. Wajar saja, bila suami pulang, Marsih seharian dikurung di kamar, sementara pembantunya disuruh beli kerupuk ke Solo atau Ngawi.

Irama kehidupan yang macam begini, sungguh pincang dan tidak nyaman. Sebagai wanita yang masih normal dan enerjik, tentu saja Marsih tak puas hanya dapat pasokan tiga bulan sekali. Minyak tanah, bensin, setrom listrik, boleh saja dibatasi, tapi kalau soal “setruman” dari suami dibatasi juga, ini sungguh kelewatan. Tapi apa daya, keadaan memaksa harus begitu, sedangkan kangen dan rindu pada suami hingga kini tak bisa dikirim lewat e-mail ataupun faksimil.

Adalah Madikin, 52, Kades Ngepringan yang juga pipimpinan desanya Marsih. Dalam usianya yang setengah abad lebih, dia tahu persis akan lagak dan liku kaum wanita yang dirundung rindu. Meski tidak sampai nglabruk sana nglabruk sini macam ayam memeti, Madikin sangat tahu bahwa bini Karjono ini sedang dilanda dendam rindu kelas berat. Dan sebagai pimpinan desa, Pak Lurah merasa berkewajiban untuk menolong warganya yang sedang lara. “Bila rindu berlanjut, hubungi lurah terdekat,” begitu gumam Madikin.

Intuisi Pak Kades memang jitu sekali. Buktinya ketika kemudian mencoba menyambangi Marsih di kediamannya, dia mendapat sambutan hangat bak Satpam BCA saja laiknya. Guyonan-guyonan minir Madikin yang nadanya nyerempet-nyerempet, disambut antusias oleh Marsih. Maka ketika dia benar-benar “disrempet” Pak Kades langsung pada sumbernya, dia sama sekali tak memberikan perlawanan. Sebab ini memang bagian dari point-point yang sangat dirindukan selama ini, tapi baru ketemu 3 bulan sekali.

Namanya kaum lelaki, dapat sasaran tembak yang cememplak (enak-enaknya dikendarai), ya jadi keterusan. Setiap ada peluang, dia pastilah main ke rumah Marsih untuk memuaskan dahaga asmaranya. Tapi lantaran keseringan, kecurigaan warga pun muncul. Diam-diam penduduk memberitahukan pada Karjono di Balikpapan, bahwa istrinya di balik bilik suka ada main dengan Pak Kadess. “Pulanglah! Kamu kerja banting tulang, di rumah istrimu “banting-bantingan” dengan Pak Lurah,” tulis warga pada Karjono.

Istri tercinta diobok-obok orang lain, mana sudilah. Maka Karjono pun buru-buru terbang dari Sepinggan – Juanda (Surabaya) dan dilanjutkan naik bis Eka jurusan Jogya. Tiba di Ngepringan sudah pukul 21. Lha kok kebetulan sekali. Pas dia tiba di rumah, Pak Kades sedang main di rumahnya. Entah tengah berbuat apa tidak, Karjono langsung memimpin penggerebekan itu. Untung saja warga masih dikendalikan, sehingga tidak terjadi hal-hal di luar kontrol. Bahkan kemudian ada MOU yang ditanda tangani Madikin – Karjono, disaksikan Muspika setempat. Isinya berupa kesepakatan damai bahwa Karjono tidak akan menuntut dan Madikin tidak akan mengganggu istrinya lagi.

No comments: