Monday, July 28, 2008

Kerokan Paling Mewah


Rupanya hidup bermewah-mewah bukan monopoli orang kaya saja. Meski Nurkhimah – Wagisan hanya guru madrasah, mereka menyempatkan diri “kerokan” dalam sebuah hotel di Kediri (Jatim). Tapi karena mereka bukan suami istri, kerokan paling mewah sepanjang sejarah Kediri ini jadi urusan polisi.

Ini memang kisah aneh, tapi sekaligus memalukan. Sebab baik Nurkhimah, 50, maupun Wagisan, 55, adalah seorang guru. Guru pun bukan sembarang guru, melainkan guru madrasah tsanawiyah di kota Nganjuk. Dengan predikat yang sarat bermuatan agama tersebut, mestinya tali moral dan iman mereka tak diragukan lagi. Tapi ternyata, godaan setan lebih kuat sehingga menggelincirkan mereka ke hubungan yang terlarang. Padahal, kenikmatan sesaat itu menyebabkan citra kedua guru ini jatuh di masyarakat.

Nurkhimah dan Wagisan memang teman sepekerjaan. Mereka juga sama-sama sudah punya keluarga masing-masing. Tapi bagi setan, menggarap mereka menjadi pasangan selingkuh bukan soal sulit. Apa lagi Wagisan ini termasuk lelaki yang kelewat normal, mudah tergiur konde bulat dan pantat besar. Sekali kena lirik Bu Nurkhimah, langsung klepeg-klepeg lali purwa duksina (lupa arah) dan keluarga. Ketika setan merekomendasikan mereka untuk bermesum ria, langsung saja meng-hooh-kan diri.

Dalam lingkungan sekolah mereka, Bu Guru ini memang nampak paling menonjol. Meski usia Nurkhimah sudah pas kepala lima, tapi bodinya masih sekel nan cemekel. Didukung oleh perwajahan dan penampilan yang cukup menakjubkan, banyak lelaki yang tertarik untuk menikmati wajahnya berlama-lama. Cuma kebanyakan dari rekan guru ini hanya sekadar mengagumi, bukan untuk menggumuli. Maklum, mereka selalu ingat akan batasan-batasan moral dan agama.

Untuk guru yang “kesedikitan” ini adalah Wagisan itu tadi. Dalam usia 11 pelita sekarang, dia masih suka mbagusi (sok ganteng) terhadap makhluk lawan jenisnya yang nampak mulus. Diam-diam dia menaksir berat Nurkhimah dengan target dikemah-kemah (disantap) sampai ke tulang-tulangnya. Apa lagi Wagisan menengarai, dari gerak-geriknya Bu Guru rekan sekerja ini siap “dikerjain” bila timing dan tempatnya memungkinkan. “Sekali-sekali diajak jalan-jalan kenapa….,” bujuk setan.

Mulailah Pak Guru asal Ngronggot ini hendak nyronggot (makan) Bu Nurkhimah. Ternyata dia memang memberi angin segar, terbukti ketika diajak jalan bareng di luar sepengetahuan suami, dia hooh saja. Akhirnya, dari jalan bareng itu pun meningkat jadi tidur bareng dengan segala variasi dan konsekuensinya. Tempatnya sengaja dipilih di luar kota, bukan di Nganjuk daerah asalnya. Maklum, bagi kalangan peselingkuh kota tempat tinggal menjadi demikian sempit, sehingga takut-takut bila kepergok rekanan dan kenalan.

Agaknya, meski Nurkhimah – Wagisan cukup rapi mengemas skandal asmaranya, lama-lama tercium juga oleh suami Bu Guru. Hanya saja dia belum menemukan bukti akurat, sehingga belakangan ini hanya diwaspadai saja seperti anggota Petisi 50 di zaman Orde Baru dulu. Dan karena Nurkhimah masih merasa aman dalam debut selingkuhnya, beberapa hari lalu mengajak gendakannya santai di sebuah hotel di kota tahu, Kediri. Wagisan tentu saja semrintil (spontan mau), karena “tahu”-nya Nurkhimah jauh lebih kenyi-kenyil dari tahu kacung.

Malang nian nasib mereka. Baru saja Wagisan - Nurkhimah “warming up” di kamar Hotel Adi Surya, tahu-tahu digerebek polisi Samapta Kediri atas laporan suami Bu Guru. Ketika pintu didobrak, keduanya nyaris dalam kondisi bugil. Namun demikian Nurkhimah masih juga bisa berdalih ketika diperiksa di Polres Kediri. “Kami nggak berbuat apa-apa, kecuali hanya kerokan saja,” katanya serius. Tentu saja polisi tak begitu saja percaya. Masak, hanya untuk kerokan saja kok mesti dilangsungkan di sebuah hotel, dari Nganjuk ke Kediri segala. Sekaya apapun boss Gudang Garam, pastilah belum pernah melakukannya.

Ada nggak bukti lain, misalnya punggung Bu Guru nampak seperti sebra, gitu?