Wednesday, August 6, 2008

Dukun “Nyepuh” Pasiennya

Ribet kepercayaan yang harus dianut Jumiyah, 22, selaku perempuan Jawa. Ketika hamil 7 bulan, dilarang melayani suami di ranjang. Dalijo, 26, sebagai suami jadi pusing. Di rumah dilarang “nyepuh” bini, diapun nekad “nyepuh” pasiennya sendiri. Dalijo memang dukun handal di Wonogiri (Jateng).

Ini kisah wanita era gombalisasi, tapi masih terbelit tradisi Jawa yang sarat dengan peringatan ora ilok (tidak baik), yang dipompakan orangtua sedari kecil. Ketika tangan menunjuk lokasi keramat, jari jemari harus segera dikulum sebagai penolak bala. Saat makan pun nasi tak boleh disisakan, jika tak mau ayam di rumah mati. Karenanya sangat boleh jadi, Bondan Winarno tak punya ayam lagi, karena dalam acara Wisata Kuliner dia tak pernah menikmati sampai habis menu yang dipromosikannya.

Ngenesnya, serba larangan itu juga menyentuh wilayah seks. Pasangan pengantin baru dilarang bersetubuh sebelum 40 hari, padahal itu selalu menjadi target operasional para mempelai. Ketika keluarga baru tersebut menunjukkan hasil produksinya, setelah kehamilan istri berusia 7 bulan, sang suami kembali dilarang menggauli istri sampai bayi itu lahir, ditambah 40 hari lagi seusai persalinan. “Sekolah banyak liburnya memang asyik, tapi kalau soal begituan…..?” protes Dalijo suami Jumiyah dengan kesal.

Dalijo memang sedang berduka, dan menyesal dia jadi orang Jawa. Awalnya dia senang saat diberi tahu istrinya telah hamil. Tapi ketika dia mau “nyepuh” lagi pada usia kehamilan istri 7 bulan, Jumiyah tak mau lagi melayani. Di samping takut pada larangan para pinisepuh, juga khawatir aktivitas itu mengganggu keberadaan janin. Padahal ibarat pemain bulutangkis, Dalijo sudah berjanji hanya akan bermain dengan backhand saja, menghindari lop dan smash tajam.

Usaha itu sudah dilakukan dengan berbagai cara, namun Jumiyah tak bergeming. Lalu apa akal? Sebagai lelaki muda yang normal dan enerjik, Dalijo kemudian menunjukkan power yang ada padanya. Kebetulan dia berprofesi sebagai paranormal, sehingga selalu memungkinkan ketemu pasien wanita mulus bebas dempul. “Tak ada rotan akar pun berguna, tak ada istri menggarap pasien juga bisa,” begitu kemudian dia berprinsip.

Minggu-minggu belakangan Dalijo memang tengah menangani pasien muda tetangga desanya di Sanan Kecamatan Girimarto. Gadis pelajar kelas III SMA itu lumayan cantik, putih bersih. Di luar betisnya, semua mirip artis Andi Soraya. Dalam kondisi kepepet Dalijo ingin segera memanfaatkannya. Saat mengobati pasien, diam-diam dia menawarkan opsi persetubuhan itu. “Mau, mau, asalkan penyakitku segera sembuh,” begitu jawab Yeni, 17, dengan tangkas.

Alamak, betapa senangnya hati Dalijo kini. Saat situasi di rumah pasien mantap terkendali, dia berhasil memperawani Yeni non Rahman tersebut. Lho, kok lebih enak? Lain kali diulangi lagi di sebuah losmen dekat waduk Gajahmungkur, Wuryantoro. Begitu berulang-ulang. Uniknya, si penyakit tak kunjung sembuh tapi malah muncul penyakit baru, berupa pembengkakan di perut pasien. Bukan infeksi, tapi Yeni positif hamil 3 bulan. Wah, tentu saja keluarga pasien marah-marah. Dukun muda dari Desa Sidokarto Kecamatan Girimarto tersebut segera dilaporkan ke polisi.

Malam itu juga dukun cabul Dalijo dicari. Ketemu-ketemu saat ngopi di Kampung Wonoboyo, Wonogiri Kota. Dalam pemeriksaan dia mengakui bahwa berulang kali telah menyetubuhi Yeni selaku pasiennya. Namun dengan sangat dia mohon kearifan polisi, agar menjadi pertimbangan selanjurnya selaku penegak hukum. Di samping dia akan bertanggungjawab menikahi Yeni, peristiwa itu terjadi akibat bini di rumah sudah tak mau melayani di ranjang gara-gara hamil. “Bapak sendiri bagaimana, seminggu nggak ngerokok apa kuwat?” kata Dalijo bertamsil ibarat.

Ah ya embuh, kok malah tanya macem-macem sampeyan!